Oleh Muhammad Rois Rinaldi

 

Ihwal nada,  merupakan bagian terkecil dari sebuah lagu. Atau dalam dunia musik diartikan sebagai suara yang memiliki getaran dan ketinggian tertentu.  Kita mengenalnya berada dalam sistem nada do-re-mi-fa-so-la-ti-do. Di dalam dunia persajakan atau puisi—yang merupakan dunia baru yang diciptakan penyair—nada memiliki peranan yang kurang lebih sama, yakni pembangun utama. Sebagaimana ungkapan Matheew Arnold, puisi adalah satu-satunya cara yang paling indah, impresif, dan yang paling efektif “mendendangkan”  sesuatu.  Bahkan  Thomas Chalye mengatakan puisi merupakan ungkapan pikiran yang bersifat musikal (Waluyo, 1991 : 23 ).  Dengan demikian, tidaklah sulit untuk mengatakan sajak memiliki nada dasarnya tersendiri, tentu lagunya sendiri. Barangkali kebanyakan orang akan mengaitkan pandangan-pandangan tersebut dengan Rima (pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalisasi atau orkestrasi), Ritma (pertentangan bunyi, tinggi rendah, panjang pendek, keras lemah, yang mengalun dengan teratur dan berulang-ulang), dan Metrum (perulangan kata yang tetap bersifat statis atau irama yang tetap).  Tetapi bukan unsur-unsur ekstrinsik itu yang akan dibicarakan. Yang akan dibicarakan adalah unsur instrinsik yang kaitannya dengan ke-batin-an. Dengan kata lain, nada dalam puisi yang hendak dibincangkan menyangkut sikap penyair terhadap pembaca berkenaan dengan pokok persoalan yang dikemukakan di dalam sajak.

 

Dalam kaitannya, tiga sajak dari tiga penyair E-Sastera—akan disebutkan nama-namanya kemudian—diciptakan dengan nada rendah itu. Membaca sajak mereka, yang dipublikasikan di E-Sastera Facebook; Sajak, seperti sedang mendengar Anggun C. Sasmi bernyanyi dengan nada paling rendah di antara lengkingan Mariyah Carey, Whitney Houston, Agnes Monika, Siti Nurhaliza, Ziana Zain, dan Beyonce. Begitu dalam dan tenang. Di kedalaman yang tenang itu, gejolak batin dari pandangan hidup yang matang saling melengkapi, bahkan saling mengontrol. Memang sulit menerima dua hal yang berbeda (gejolak dan ketenangan) berada pada satu kesatuan emosi yang utuh dalam sebuah sajak. Tetapi begitulah, kemarahan, kekecewaan, atau pun kesedihan manusia pada dasarnya relatif sama, tapi cara menyikapinya tentu berbeda-beda, misalkan cara para penyair yang menyikapi gejolak-gejolak batinnya dengan nada rendah ini.

 

Secara umum sajak yang saya pilih dan saya kelompokkan sebagai sajak bernada rendah sekurang-kurangnya memiliki ciri-ciri berikut: (1) sanggup berbicara hal yang memungkinkan adanya ungkapan kemarahan atau keputusasaan yang berlebihan dengan suasana bombastis, tapi oleh penyair dikemas dengan suasana yang tenang penuh kesadaran; (2) dalam nada rendah  menunjukkan adanya indikasi gejolak batin yang dahsyat; (3) landasan pengucapan yang digunakan bersifat netral atau mengalir apa adanya, meski amanat yang sesungguhnya hendak disampaikan begitu kuat mendesak pikiran dan jiwa penyair; dan (4) tentu saja yang berkaitan langsung dengan nada (rendah) dalam pengertian unsur intrinsik, yakni penyair tidak memberi penekanan berlebihan kepada pembaca, seperti menggurui, sombong, angkuh, penuh perintah, mengejek, menyindir, dan sebagainya. Dari 4 kriteria tersebut, saya memilih “Pungguk Telah Lena Tidur” karya Lara MN, “Rindu dari daerah jauh” karya Aloy Indra, dan “Monolog 100” karya Puzi Hadi. Dan mari membaca karya mereka satu persatu, dimulai dari  “Pungguk Telah Lena Tidur” karya Lara MN.

 

Jangan kau panggil pungguk
mengkhabarkan bulan mengambang
kerana ia tidak lagi menanti
mimpi-mimpi tidak pasti

 

Jangan kau kejutkan pungguk
dengar puisi dan syair rindu
kerana ia telah lama tahu
itu semua adalah penipu palsu

 

Ia tidak akan bangun
dari tidur lena yang asyik
kerana tidurnya indah meniti bintang
setelah lama tahu dipermainkan
dalam madah gurindam

 

Lara MN
Kuala Terengganu.
27052016

 

Sajak yang ditulis dengan pola bentuk bait kwatrin ini mengandung antitesis terhadap pribahasa masa lalu, yakni tentang Pungguk yang merindukan bulan. Peribahasa yang digunakan untuk mengibaratkan seseorang yang mengharapkan sesuatu yang mustahil. Dikatakan mengantitesis karena Pungguk, di dalam sajaknya, tidak lagi menanti mimpi-mimpi (atau harapan) yang tidak pasti. Itu yang digambarkan pada bait pertama. Kemudian pada bait kedua lebih ditegaskan: “Jangan kau kejutkan pungguk/dengar puisi dan syair rindu/kerana ia telah lama tahu/itu semua adalah penipu palsu”. Bait ini selain mengantitesis keberadaan Pungguk sebagai sebuah peribahasa lama yang tidak kenal usang, juga memberi  pernyataan bahwa tidak perlu lagi menulis puisi kerinduan atas nama Pungguk. Mengapa? Pungguk telah tidur di antara bintang–di sini saya tulis “di antara” bukan “meniti bintang”, karena tidak logis jika tidur sambil meniti, tapi di paragraf selanjutnya akan dijelaskan mengapa penyair menggunakan “meniti” bukan “di antara”. Maksud dari “tidur” adalah peniadaan tokoh Pungguk itu. Kalimat lugasnya kurang lebih seperti ini: “Pungguk telah mati, jangan dicari lagi.”. lebih menarik lagi, dua larik di bait terakhir menyatakan bahwa Pungguk telah lama tahu, dirinya dipermainkan dalam madah gurindam. Apa yang dimaksud gurindam? Sajak dua bari yang mengandung petuah. Mengapa Pungguk tertipu di dalamnya? Tentu saja sajak ini memilik lapisan makna yang lain, selain ihwal Pungguk yang dijadikan “tokoh” demi sebuah tegangan.

Sebagaimana diketahui bersama, penyair kerap sekali mengubah bentuk perasaan riilnya dalam sajak, sehingga pembaca harus menelaah dengan sungguh-sungguh apa yang  hendak disampaikan: sense. Dalam “Pungguk Telah Lena Tidur”, perlu kiranya menempatkan tokoh nyata sebagai “Pungguk”. Maka yang didapatkan adalah, ada seseorang (saya tidak menyebut seseorang itu adalah penyair) yang sudah tidak percaya kepada mimpi-mimpi tak pasti. Karena mimpi-mimpi itu telah lama mengaburkan pikiran dan pandangannya. Seseorang  telah memilih untuk menolak harapan-harapan yang ditawarkan oleh puisi atau sajak kerinduan. Karena baginya, puisi kerinduan itu palsu. Seseorang itu telah memilih menepi beranjak dari keterpurukan. Pada penelaahan ini, dapat dipahami mengapa penyair menggunakan kata “meniti” pada di larik ketiga pada bait terakhir: “kerana tidurnya indah meniti bintang”. Seseorang yang tidur itu bukan tidur dalam pengertian sebenarnya.  Melainkan tidur dalam pengertian memejamkan mata, telinga, dan ingatan dari masa lalu dan harapan palsu. Mengapa? Karena hanya pada saat tidur saja manusia benar-benar hampa dari penglihatan dan pendengaran, begitu pun ingatan.

Membaca “Pungguk Telah Lena Tidur”, seperti mendengarkan sebuah lagu Melayu yang dibawakan biduan bersuara bass dengan alunan yang mendayu dengan aransemen musik yang lebih kekinian, mungkin sedikit dibuat nge-blues. Bukan lantaran dari bentuk sajak yang mengindikasikan adanya ada tarik menarik antara gaya persajakan lama yang takluk kepada rima dengan sajak kekinian yang lebih cenderung bebas bentuk. Melainkan dalam gubahan yang sedemikian, pikiran dan perasaan  yang dijelmakan penyair—sebagai kreator—telah berhasil menciptakan nada-nada yang tidak menunjukkan keterlibatan emosional yang sangat tinggi. Sehingga pembaca dapat menikmati betapa ujaran demi ujaran dialirkan begitu saja.  Meski demikian, subject matter (pokok persoalan yang hendak dikemukakan penyair) jelas dibangun dengan penglibatan emosi penyair. Untuk memahami posisi ini, analoginya sederhana: untuk menerbangkan layang-layang kita hanya butuh benang lalu mengendalikan layang-layang itu dengan benang, kita tidak perlu  ikut terbang. Lebih jelasnya, sebagai penyair Lara MN tahu bagaimana mengotrol keterlibatan emosinya di dalam sajak yang ia tulis.

Selanjutnya, karya penyair muda yang dinobatkan sebagai Penyair Harapan pada Hescom E-Sastera 2015 bersama Lara MN dan Khair Man, yakni Aloy Indra.

13512179_1100611193333968_4225915213763868197_n

Rindu dari daerah jauh

 

Waktu telahpun berganjak
dari tapak menelapak beredar
aku tinggalkan setitik rasa masa lalu
di daerah lama yang sunyi
tempat yang tertinggal kosong
tak berpenghuni
dan petang ini aku kembali imbaskan
sebuah kisah yang aku pendam
hingga hampir tenggelam

 

Mungkin antara kita
tak pernah ambil pusing
atau tak endah apa adanya
kerana kita terlena
pada perkiraan yang asyik
hingga semuanya tercicir
lalu hilang bersama embun

 

Jangan tunggu aku lagi
usah lelahkan diri di bingkai tingkap
menanti aku, lewati kamu
mungkin aku takkan pulang
mungkin aku takkan lalu
kerana di datar ini
tersiap padang nan harum
untuk aku huni
walau cuma sendiri

 

Tapi, aku tak mahu lama (di sini)
kerana aku juga seperti yang lain
punya ingin hangatnya cinta
ingin riuhnya tawa
ingin bahagia adanya
kerana aku juga mahukan indahnya hidup
sebelum aku beralih tapak
di sebelah sana.

 

Aloyindra

Puchong

 

Sebagaimana disinggung di atas, perasaan manusia relatif ada di wilayah yang sama, meski setiap manusia unik. Terlebih perasaan yang umum (kisah-kisah rasa sakit, cinta, kegamangan, dan harapan ala anak muda yang kasmaran), sangat banyak. Oleh karena itu,  “perasaan umum” yang dijadikan tema oleh Aloy Indra digarap dengan ungkapan-ungkapan yang khas, tentu saja dengan tujuan menghasilkan sajak yang khas pula. Upaya kait-mengait antara waktu, setitik masa lalu, daerah lama yang sunyi, dan kisah yang terpendam merupakan gambaran yang langsung menguatkan kegelisahan si aku lirik. Ditambah dengan teknik ragaan seperti beberapa larik ini: “dari tapak menelapak beredar/aku tinggalkan setitik rasa masa lalu” dan “petang ini aku kembali imbaskan” menjadikan sajak yang dibuat Aloy Indra ini tidak saja khas, tapi juga berkualitas. Ini, bagi saya, sangat menggembirakan. Karena saya melihat perkembangan Aloy Indra dalam menulis sajak terus menanjak. Artinya, ia anak muda yang rajin. Melalui sajak ini, ia mampu membuktikan kesungguhannya dalam mengembangkan teknik persajakan dalam proses kreatifnya. Meski, tentu saja tidak ada waktu selesai untuk belajar. Masih banyak kemungkinan yang harus ia temukan.

 

Nada yang dihasilkan sajaknya sangat rapi dan tidak fals (istilah popularnya, tidak patah). Ibarat mendengarkan Ning Baizura menyanyikan “Bukan Wanita Sempurna” atau Raisa yang menyanyikan “Apalah Arti Menunggu”, lentur dan syahdu. Nadanya sangat rendah. Karena tidak tampak kata yang meledak-ledak. Padahal orang yang merana dilanda pedihnya perpisahan tanpa kemungkinan perjumpaan, biasanya akan meledak-ledak dan merana. Tetapi Aloy mengemasnya dengan dingin, misalkan bait kedua ini: “Mungkin antara kita/tak pernah ambil pusing /atau tak endah apa adanya/kerana kita terlena/pada perkiraan yang asyik/hingga semuanya tercicir/lalu hilang bersama embun”. Keridoan (keredhaan) aku lirik dalam sajak ini menunjukkan kematangan pikiran dan emosi. Aku lirik tidak hendak menyalahkan siapapun. Ia menikmati setiap rasa sakit dan hidup yang asing dengan cara yang elegan: “kerana di datar ini/tersiap padang nan harum/untuk aku huni/walau cuma sendiri”.

 

Hanya saja, pada bait terakhir, saya sempat tersedak: “Tapi, aku tak mahu lama (di sini)/kerana aku juga seperti yang lain /punya ingin hangatnya cinta/ingin riuhnya tawa/ingin bahagia adanya/kerana aku juga mahukan indahnya hidup …/. Suasana ketidaknyamanan terhadap apa yang sudah ia terima sebagai sebuah pilihan melahirkan nuansa yang langsung berubah, tentu saja nada yang juga berubah. Tetapi segera saya pahami bahwa psikologi manusia memang rentan dengan gejolak dan memungkinkan terjadi perubahan-perubahan tidak terduga, begitu juga dalam sajak. Kemudian kehadiran bait terakhir ini, apakah mengganggu bangunan nada keseluruhan sajak? Nasib baik dua larik penutup sajak ini mampu menyelamatkan kemungkinan itu: “… sebelum aku beralih tapak/di sebelah sana”. Penutup sajak yang sangat baik, mengembalikan keharmonisan nada yang dibangun dari awal.

 

Sajak terakhir adalah  karya penyair yang selalu berani menciptakan kebaruan demi kebaruan dalam sajak-sajaknya, yakni sajak haru biru bertajuk “Monolog 100” karya Puzi Hadi.

 

MONOLOG 100

Mei 10, 2016

 

1 Duka berita
2 tersebar kiri dan kanan
3 utara ke selatan
4 timur ke barat
5 sebuah keberangkatan
6 tak berpulang
7 kerahmatullah +
8 Sugul petang
9 terkedu diam
10 berair mata
11 redha
12 arwah telah tiada +
13 Mandi dan kafan
14 bersinggah akhir
15 jasad ke rumah
16 bersolat jenazah
17 ratusan jemaah
18 selepas isyak
19 berangkat ke hentian
20 akhir tanah
21 bacaan talkin bertahlil
22 dalam gelap malam +
23 Hari ke hari
24 duka jiwa
25 sunyi rumah
26 sepi hati
27 sugul diri +
28 Kuhimbau lampau
29 kita berduniawi
30 melihat pelangi
31 mengejar ombak
32 mengutip siput
33 mendaki bukit
34 memetik bunga
35 dalam riang
36 melodi berirama
37 mengungkap kata
38 larik dan bait puisi
39 oh hidup kita
40 melihat anak berdewasa
41 mereka berumah tangga
42 kita berpunya cucu +
43 Tiba-tiba takdir
44 rebah ke pintu diri
45 episod ke episod
46 cabaran mengujimu
47 ‘kau pasrah Ilahi
48 ‘kau berserah diri
49 ‘kau bercekal hati
50 titip doa pada arRahman arRahim
51 kesekian ikhtiar duniawi
52 kesekian ikhtiar batini +
53 Kini ke asal bumi
54 ditemani ramai ahli kubur
55 burung-burung berlintasan
56 bersiulan di ranting
57 cuaca terik tiada hujan
58 berkering tanah
59 kusirami
60 air
61 air
62 air
63 membasahi tanah
64 membasahi rumput
65 hujan pun turun
66 memandi tanah kubur +
67 Kubaca surah-surah wahyu Ilahi
68 berdoa pada Ilahi
69 keringanan dan kerahmatan +
70 Kerap pula aku
71 bermonolong dengan arwah
72 bercerita rindu diri
73 mengadu resah hati
74 menyata khabar gembira
75 segalanya diam tak berbalas
76 kuyakini arwah mendengar,
77 Wallahuaklam +
78 Wajahnya terbayang
79 merenung padaku
80 suaranya terngiang
81 berbicara padaku
82 menghantar pesan
83 mengirim kenangan +
84 Aku redha
85 pelayaran bahtera
86 ke laut lepas
87 sauhnya telah diangkat
88 berlepas ke tujuh lautan +
89 Hanya potret kenangan
90 kusimpan erat dalam hati
91 kala rohnya berhijrah
92 ke langit pertama +
93 Aku terus di sisimu
94 bersama awan di atas
95 diusap deru angin
96 memahami makna kehidupan
97 serba sementara
98 tidak abadi
99 dan, keabadian ialah …
100 kematian +

 

Sulit untuk tidak mengatakan bahwa sajak “Monolog 100” merupakan sajak yang menggambarkan pedihnya kehilangan. Kepedihan yang nyaris sempurna. Membaca sajak ini mebuncahkan kehendak saya untuk berduet dengan Puzi Hadi, mementaskan sajaknya ini. Bagaimana tidak, sebuah puzzle yang rumit dari keadaan jiwa yang kalut mampu disusun menjadi sajak dengan suasana yang sangat tenang, nada yang rendah sekali. Padahal, sangat dimungkinkan adanya kemarahan yang lahir dari ketidakterimaannya. Tetapi yang ditunjukkan sajak ini sebaliknya, penerimaan yang total. Bagi saya, ini sulit. Apalagi saya tahu ini sajak diciptakan untuk istri tercintanya yang telah meninggalkannya beberapa bulan lalu. Kehilangan orang yang dicintai dan telah mendampinginya seumur hidup, bukankah sebuah cubaan yang teramat berat? Tetapi barangkali begitulah kebesaran jiwa seorang penyair, tidak menempatkan kehendak pribadinya sebagai yang ingin terus memiliki. Ia menyadari ia tidak memiliki apa-apa dan tidak berhak menuntut kembali yang telah diambil Sang Maha Kuasa. Oleh sebab itu, sajak “Monolog 100” dibuat sebagai “yang tidak lebih” dari penghayatan terhadap sebuah kejadian: “1 Duka berita/2 tersebar kiri dan kanan/3 utara ke selatan/4 timur ke barat/5 sebuah keberangkatan /6 tak berpulang /7 kerahmatullah +/8 Sugul petang /9 terkedu diam/10 berair mata /11 redha /12 arwah telah tiada +”.

 

Sajak satu bait yang dibangun oleh larik-larik ramping ini, masing-masing menunjukkan kejadian dari waktu yang berbeda-beda, tentu saja di sana tampak juga tingkatan emosi yang berbeda-beda. Begitu juga dengan larik ke-60, 61, dan 62 yang berisi satu kata: air. Ketiganya menempati suasana dan gejolak emosi yang berlainan. Meski demikian, secara keseluruhan, nada yang diciptakan selaras. Seperti mendengar tahlil seorang petapa di malam yang sepi. Dan puncak nada paling rendah dari sajak ini terletak pada larik-larik berikut ini: “91 kala rohnya berhijrah/92 ke langit pertama +/93 Aku terus di sisimu/94 bersama awan di atas/95 diusap deru angin /96 memahami makna kehidupan /97 serba sementara /98 tidak abadi /99 dan, keabadian ialah …/100 kematian +”. Jika dihayati sungguh-sungguh, kunci nada awal “Monolog 100” ada pada penerimaan. Penerimaan memang akan selalu melahirkan nada paling rendah dan Allah menyukai hamba yang menerima setiap keputusannya dengan kerendahan hati. Barangkali inilah yang disebut puncak kesadaran.

 

Hal lain yang perlu dipaparkan ihwal sajak Puzi Hadi ini. Selain menghadirkan suasana dengan nada rendah, boleh juga rasanya menilai bahwa Puzi Hadi telah sampai pada taraf keterampilan pengungkapan yang cukup matang. Karena telah berhasil menulis sajak dengan rentetan angka dari 1-100 tanpa patah dan tanpa terlihat aneh. Pembaca akan dengan mudah menerima. Ini bukan pekerjaan yang mudah, butuh serangkaian eksperimen bahasa yang dilakukan terus menerus. Dengan demikian, tidaklah berlebihan pernyataan saya di awal, bahwa Puzi Hadi selalu berani menghadirkan hal-hal baru dalam karyanya. Dan pada sajak ini, saya dikejutkan dengan nada rendah yang diciptakan. Biasaya, ia menulis sajak-sajak bernada tinggi yang ritmis penuh ledakan tidak terduga. Misalkan sajaknya yang, kalau tidak salah, bertajuk “Wou Wau”.

Demikianlah tiga penyair yang E-Sastera yang menghadirkan nada-nada rendah yang dalam dan kuat. Proses penciptaan sajak memang menyimpan banyak kemungkinan. Banyak nada yang dapat dicoba atau dipilih. Bahkan ada yang mengatakan bahwa dunia sastra (termasuk sajak di dalamnya) merupakan dunia kemungkinan tanpa batas. Wallahu a’lam.

 

Banten, 27 Ramadhan 1437 Hijriyah