Oleh Muhammad Rois Rinaldi

 

Tradisi kesusastraan di pesantren telah sungguh-sungguh hidup dan berdegup semenjak ratusan tahun lalu. Diperkirakan dimulai pada abad 17-an, merujuk pada catatan sejarah Pesantren Sidogiri, Pasuruan, yang didirikan pada tahun 1718 Masehi. Mengingat budaya catat-mencatat sejarah pesantren tidak seberapa lengkap, dimungkinkan tradisi tersebut sudah dimulai jauh sebelum abad 17 Masehi. Dengan demikian, pernyataan penyair Binhad Nurrohmat tentang definisi sastra pesantren yang rancu dan problematik lantaran  apa yang dimaksud dengan karya atau genre sastra pesantren selama ini tidak jauh berbeda dengan karya sastra lain pada umumnya kecuali hanya pada persoalan tema, perlu dikaji maksudnya.

Barangkali benar, kalau yang dimaksud adalah “sastra pesantren” masa kini yang kian kehilangan pijakannya lantaran terjadi pergeseran rujukan karya sastra, misalnya rujukan teori-teori Barat yang makin menjauhkan panggang dari api. Tetapi, lain hal jika yang dipahami adalah karya sastra yang ditulis oleh santri atau kiayi (saya tidak menghitung yang hanya menulis karya bertema atau berlatar pesantren) dengan merujuk pada teori-teori kebahasaan (termasuk “sastra” di dalamnya) yang mengakar-urat di kalangan santri dan kiayi berabad-abad lamanya.

Di pesantren, ada banyak hal penting yang berkaitan dengan kesusastraan yang dijadikan pelajaran utama. Misalnya ilmu Nahwu, yakni pelajaran gramatikal bahasa Arab untuk mengetahui bentuk kata dan keadaan-keadaannya, termasuk di dalamnya ilmu Shorof. Kemudian Balaghoh yang mencakup tiga komponen penting: ilmu Ma’ani, Bayan, dan Badi’. Cabang-cabang ilmu yang berkaitan dengan kesusastraan itu terus berkembang dari masa ke masa. Yang mulanya tidak ter-kodifikasi sebagai suatu disiplin ilmu yang utuh, pada abad ke-III Hijriyah, menjadi disiplin ilmu yang layak kaji dan uji. Sehingga mencapai efektivitas dalam komunikasi antara mutakallim dan mukhathab. Ibnu Qutaibah, Al-Jahizh, dan Abu Ubaidah merupakan tiga tokoh penting dalam Ilmu Balaghoh.

Balaghoh ini merupakan ilmu kebahasaan yang kompleks dan detail. Barangkali orang sekarang mengadaptasi ilmu Nahwu dan Balaghoh sebagai  dasar ilmu Sintaksis, Semiotik, Semantik, dan kajian-kajian yang terkait lainnya. Mengingat Nahwu dan Balaghoh sudah terkodifikasi jauh hari dibandingkan kajian-kajian kebahasaan yang kini ada. Ingat, orang-orang non-Muslim dan Eropa telah menghancurkan pusat-pusat peradaban Islam di Irak (Baghdad), Andalusia, dan  Turki, lalu membawa kekayaan intelektual Bangsa Timur ke negeri-negeri mereka.

Tradisi membaca atau menyanyikan puisi di pesantren juga perlu diperhatikan betul.  Nadzam Alfiah ibnu Malik (berisi 1000 larik puisi tentang ilmu tata bahasa Arab),  Amrithi, prosa al-Barzanji, Qasidah Burdah, syair Abu Nuwas, dan syair Imam Syafi’i, misalnya, selalu dibacakan atau dinyanyikan saban hari. Selain pula Nadham Maqshud, puisi yang mempelajari ilmu konjugasi/perubahan bentuk kata itu, menjadi bacaan wajib para santri. Tidak heran jika kemudian para santri dan kiayi menjadi seorang penyair ulung yang tidak saja berindah-indah dengan kata, melainkan menciptakan karya yang mencerahkan.  Sebut saja Syaikh Hamzah Fansuri, KH. Brigjen Syam’un, Ahmad Tohari, KH. Musthfa Bisri, MH. Ainun Najib, dan sederet nama dari generasi ke generasi yang tidak ada putusnya. Bahkan penyair masa kini semisal Acep Zamzam Noor, M. Faizi,  Ahmad Faisal Imran, Malkan Junaedi, Jamil Abdul Aziz, dan Dimas Indiana Senja adalah para santri, yang sebagian telah memiliki santri.

Maka tidak heran jika gelombang karya sastra yang dilahirkan oleh` para santri (baik yang secara terang-terangan menunjukkan kesantriannya maupun yang menyembunyikan) dari zaman ke zaman tidak pernah putus. Sebagaimana kelahiran-kelahiran penyair masa kini, termasuk kelahiran seorang santri yang mempimpin pesantren di Gerem Raya, Cilegon, bernama Mukti Jayaraksa. Dengan segenap kelebihan dan kekurangannya, ia  menerbitkan kumpulan puisi bertajuk Syahadat Banten. Sebagai santri yang sastrawan, lelaki yang juga telah menerbitkan kumpulan cerpen Meminang PSK pada tahun 2012 ini, turut menjadi bagian dari fakta pergerakan sastra di kalangan pesantren yang tidak lekang oleh waktu.

Judul buku puisi yang digunakan terbilang judul yang berat. Selama ini masyarakat dunia baik Muslim maupun non-Muslim mengenal Syahadatain (dua kalimah syahadat) yang menyatakan kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Syahadatain merupakan rukun pertama dalam Rukun Islam. Tidaklah termasuk golongan Muslim jika belum bersyahadat. Sederhananya begitu. Kemudian bagaimana dengan “Syahadat Banten”? Apakah pengingkaran terhadap aturan-aturan Islam yang ditentukan Allah melalui Nabi Muhammad? Adakah syahadat selain Syahadatain? Ataukah ini syahadat yang tidak memiliki pengertian dan fungsi yang sama dengan Syahadatain?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab oleh para pembaca.  Saya pribadi tidak dapat memaparkannya secara terang dan terbuka. Selain karena pembahasannya membutuhkan ruang yang luas dan waktu yang cukup, Syahadat Banten bagi masyarakat Banten, terutama dalam kajian-kajian mistisisme, merupakan teks sakral yang tidak dapat dipaparkan di sembarang tempat. Adapun saya mengetengahkan pesoalan judul, agar pembaca memahami bahwa Syahadat Banten bukan sekadar judul sebagaimana Syahadat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, atau Assalamu’alaikum Beijing yang memasukkan kata yang identik dengan Islam. Ianya memiliki nilai sejarah dan filosofi yang luas serta nilai kebudayaan yang tinggi. Dan tentu seluruh masyarakat Indonesia telah mafhum, Banten merupakan tanah para ahli tarekat.

Mengenai isi puisi-puisi dalam Syahadat Banten, Mukti Jayaraksa (MJ) telah berhasil mengejawantahkan nilai-nilai religiusitas, mistisisme, dan ke-Banten-an dalam satu teks, walau saya tidak berani mengatakan sudah sempurna. Dengan kata lain, bangunan utama puisi-puisinya adalah nilai-nilai Islam, budaya lokal Banten, dan nilai-nilai mistis. MJ juga tampak berupaya sepenuh tenaga untuk menghadirkan realitas pergulatan sosial politik yang terjadi di tengah manusia masa kini, kadang mengarahkan pembaca kepada masa lalu dan mempertanyakan masa kini untuk menemukan satu proyeksi bagi masa depan.

Satu dari sekian puisi yang komplit memasukkan unsur-unsur tersebut adalah puisi bertajuk “Sajak Tanah Banten”.

 

Adakah tapak kakimu di tanah Banten?

Tanah sultan hingga Palembang

Di tanah ini, tamu adalah burung-burung

yang membuat sarang

Berbagi makanan dan mazmur kehidupan

Meski hati dan kata tak tentu sama

Namun nafsu manunggal jua

 

Bila hasrat singgah di saat jumpa

Nampak wajah merona bertukar senyuman

Birahi pun mendesak persetubuhan

Tapi, janganlah memperkosa cinta

Karena cinta garang bila bersarang luka

 

Adakah tapak kakimu di tanah Banten?

Cahaya kian merencam

Kejayaan menghilang terhempas waktu

Namun kraton, kelenteng, pure dan benteng

Masih bisa dibaca – masih terus dibaca

Walau aku terjaga, mata dhohir katarak mata pelajaran

Mata-hari terbungkus mata uang

Dan mata batin amnesia di pekuburan zaman

 

Pertanyaan yang menjadi larik pembuka puisi ini bukanlah pertanyaan sederhana yang dapat dijawab dengan “pernah” dan “tidak pernah”. Pertanyaan ini adalah pertanyaan mengenai jejak kejayaan Banten sebagai kerajaan maritim yang tangguh. Yang pernah mengusahakan penaklukkan Palembang demi meng-hentikan pergerakan Portugis, meski Sultan Muhammad gugur dalam proses penaklukkan. Digambarkan juga, di masa lalu orang-orang memilih tinggal di Banten: “Di tanah ini, tamu adalah burung-burung/yang membuat sarang”. Pilihan untuk tinggal di suatu tempat, berdasarkan sejarah-sejarah persebaran manusia, tingkat kepadatannya selalu tergantung pada kemakmuran dan keamanannya.  Keadaan Banten yang makmur dan aman sentosa ini ditekankan oleh larik kelima bait pertama: “Berbagi makanan dan mazmur kehidupan”.

Yang menarik, ada kata “napsu” pada larik terakhir. Memaknai kata ini adalah dengan memosisikan “napsu” sebagai fitrah manusia, yang kalis. Artinya, napsu dalam pengertian positif, sebagai pendorong manusia untuk berbuat. Tanpa napsu, manusia tidak dapat menjadi khalifah di muka bumi. Sederhananya, setiap manusia lahir dalam keadaan suci, begitu pun napsu dalam diri manusia, pada dasarnya suci. Yang menjadikan napsu itu terarah pada keburukan adalah proses manusia menjalani hidup, di mana segala pengaruh dimungkinkan masuk.

Begitu pun pada bait kedua. Kata “hasrat” dan “birahi” dimaknai sebagai yang masih dalam keadaan kalis. Penekanan pada larik keempat dan kelima: “Tapi, janganlah memperkosa cinta/Karena cinta garang bila bersarang luka”. Bermaksud bahwa “napsu”, “hasrat”, dan “birahi”—tiga kata yang maknanya berdekatan—akan berubah makna dan fungsi jika diperlukan dengan cara semena-mena, yakni “pemerkosaan”. Perlu dipahami, kegarangan cinta tentu saja bukan kegarangan yang ditimbulkan dari kebencian, melainkan kegarangan yang lahir dari cinta dan untuk cinta itu sendiri. Itulah sebab ada yang mengatakan, aku membencimu dengan cintaku.      Pertanyaan pada bait berikutnya semakin mendesak, meski tetap retoris.

 

Adakah tapak kakimu di tanah Banten?

Cahaya kian merencam

Kejayaan menghilang terhempas waktu

Namun kraton, kelenteng, pure dan benteng

Masih bisa dibaca – masih terus dibaca

Walau aku terjaga, mata dhohir katarak mata pelajaran

Mata-hari terbungkus mata uang

Dan mata batin amnesia di pekuburan zaman

 

Bait ketiga ini mengutarakan kenyataan-kenyataan bahwa kejayaan Banten tinggal sejarah di tengah cahaya (harapan) yang makin tidak jelas pancarannya. Kejayaan yang meninggalkan bangunan-bangunan tua seperti keraton (Kaibon), klenteng (Vihara Avalokitesvara), pure, dan benteng (Surosoan). Bangunan-bangunan itu, meski hanya benda mati sesungguhnya menyimpan berjuta hal minta dibaca oleh manusia hari ini. Hanya saja, bagaimana cara membaca bangunan-bangunan itu tergantung pada siapa dan dengan sudut pandang yang mana. Pada puisi ini, “aku lirik” (tokoh aku di dalam puisi) menyatakan: “… mata dhohir katarak mata pelajaran/Mata-hari terbungkus mata uang/Dan mata batin amnesia di pekuburan zaman”. Agar pembaca lebih leluasa memaknai puisi ini, ajukanlah pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan “mata dzohir”, “mata batin”, dan “mata-hari”?

Selain itu, puisi-puisi MJ berbicara “esensi” membaca. Maksudnya, membaca bukan saja membaca aksara, sebagaimana tiga puisi berikut ini.

Inilah kesadaran

Aku punya buku sejarah bersampul abu-abu

Yang sengaja aku buka untuk bayi-bayi

Dan mereka yang masih menghajatkan

Iqro dalam kehidupan

(Sadau Kehidupan)

 

Itulah diri dari air sulbi yang dipancarkan

Berwujud sekumpulan darah yang beku

 

Bacalah!

(Membaca Diri)

 

Demi thowaf waktu yang berputar

Demi qiblat pada poros yang tunggal

Aku membaca makna kerugian

 (Thowaf Kesadaran)

 

Ketiga puisi ini dapat ditarik kepada wayu pertama, “iqra!” yang berarti “bacalah!”. Perintah untuk membaca, dimaknai oleh penyair ini dengan cara yang lebih luas. Membaca tidak hanya teks semata, melainkan kehidupan dan segala hal yang ada dan yang tampak tidak ada di dalamnya harus dibaca. Itulah mengapa banyak yang mengatakan bahwa membaca yang baik adalah dengan tidak menelan mentah apa yang dibaca dan membaca bukanlah semata proses mengeja aksara yang disusun, melainkan dapat juga berupa benda-benda dan kejadian.

Dalam puisi “Sadau Kehidupan” MJ menghadirkan “sejarah” sebagai bagian dari yang mesti dibaca.  Membaca buku-buku sejarah yang dimaksud bukan buku yang dicetak, melaikan buku kehidupan yang tidak berbentuk fisik. Ada pun “sampul abu-abu” yang dimaksud untuk menyimbolkan ketidaktegasan atau ketidakjelasan sejarah. Untuk siapa sejarah bersampul abu-abu itu dibuka? Bayi-bayi? Siapa yang dimaksud dengan bayi-bayi? Bayi-bayi dapat dimaknai sebagai simbol kelahiran atau simbol orang-orang baru yang masih polos. Yang mudah diwarnai oleh sejarah-sejarah bohong. Selain itu ditujukan kepada: “mereka yang masih menghajatkan/Iqro dalam kehidupan”. Sebagai kunci, perhatikan larik penutup bait: “Iqro dalam kehidupan”. Dikatakan kunci, karena larik ini menekankan sejarah pada membaca kehidupan.

Puisi “Membaca Diri” mendesak para pembacanya untuk memperhatikan (tulang) sulbi, yang lebih dikenal dengan sebutan tulang belakang. Ada apa dengan tulang sulbi? Tulang yang tidak dimakan tanah ini. Apa maksud dari sekumpulan darah yang beku. Membaca puisi ini hanya membutuhkan satu jalan, pahami apa urgensi “tulang sulbi” dalam perspektif Islam. Kiranya untuk puisi ini saya tidak perlu menjabarkan, agar pembaca termotivasi untuk mencari tahu sendiri.

Kemudian pada “Towaf Kehidupan”, MJ membaca waktu yang berlalu begitu saja: “Demi thowaf waktu yang berputar”.  Sumpah begini mengingatkan saya kepada beberapa surat Al-Qur’an yang dimulai dengan sumpah Allah, semisal sumpah demi waktu, demi dhuha, demi matahari, dan sebagainya. MJ berkali-kali menekankan betapa yang hendak ia sampaikan sangat penting. Begitu pun dengan larik “Demi qiblat pada poros yang tunggal” yang mengingatkan saya kepada  Surat  Al-Baqarah ayat 145. Apa hal penting yang hendak disampaikan? Tidak lain  adalah kerugian (hidup dan kehidupan di alam manusia, fana).

Pada beberapa bagian, puisi-puisi MJ menghadirkan nuansa yang sangat kelam. Kesedihan, kegelisahan, kekhawatiran, harapan, dan kenyataan berbenturan. Seolah-olah ia memasuki sebuah labirin, berpusing di dalamnya. Sebagian dari beberapa puisinya mengangkat latar Banten sebagai tempat ia lahir dan menjalani kehidupan. Selain yang bersifat universal, seperti dua puisi berikut.

 

Saat ini, 1001 sabda Nabi dibuang

Di tong-tong sampah

Dan firman Tuhan disimpan dalam peti mati

Mereka berjalan pada benderang

Menuju lorong gelap dan pengap

Berhati-hatilah wahai cucu-cucu Adam

Makanan yang ditelan hanya lidah yang merasakan

Baju yang dikenakan hanya kafan bangkai

Ucap yang kau suarakan

Gerak laku yang dikerjakan

Dan empati rasa hanya uap yang mengembun

Pada rumput liar yang mengering

 

(HAMPA)

 

Di ufuk pelangi merindu

riwis-riwis hujan pada cahaya

yang terkungkung

 

Menunggu benih di musim

sunyi yang terkapar dalam kerangkeng

waktu

 

Pujangga bersyair tentang waktu

yang tercampakkan dalam

ladang subur itu

 

Bersama Sastrawan bercerita tentang

kisah setan di dunia manusia

 

(DUNIA API)

 

Dan masih banyak yang perlu Anda telusuri di dalam buku ini.

 

Cilegon,  2016